PILARJAMBI.COM | KUALATUNGKAL – Pasar Parit 1 Kuala Tungkal, yang terketak di kelurahan Tungkal Harapan, kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjabbar, hingga kini masih menjadi polemik, pasalnya banyak pedagang yang mengeluh dengan bangunan pasar yang baru-baru ini diresmikan oleh pemkab.
Setelah Gedung Pasar Parit 1 selesai dibangun, sejumlah pedagang diminta untuk pindah. Pemerintah Kabupaten Tanjabbar melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tanjabbar menggratiskan sewa tempat bagi pedagang.
Namun, kebanyakan pedagang menolak untuk pindah. Pedagang beralasan lapak yang berada di Gedung baru Pasar Parit 1 Kuala Tungkal tersebut sangat kecil.
Selain itu, pedagang beralasan Gedung baru tersebut juga sempit. Ini lah yang diungkapkan oleh Maryani, pedagang sayur yang masih bertahan berjualan di Gedung lama Pasar Parit 1 Kuala Tungkal.
“Ini sempit, duduk kita tidak bisa, tegak kita agak susah juga. Jadi memang sempit. Makanya pedagang tidak mau pindah, padahal bagus kalo memang luas, ditempati artinya sesuai dengan keinginan pedagang,” sebutnya. Jumat, (15/01/2021)
Ia memandang bahwa luasnya lapak di gedung baru Pasar Parit 1 Kuala Tungkal tersebut sangat jauh berbeda dengan gedung baru.
“Kalo seperti ini kan luas, jadi enak. Di sini ramai dulu, ada ikan, ada sayuran. Penuh di sini, karena memang kan lapak nya luas. Ikan saja tidak mungkin kita jual hanya satu kilo, minimal lima kilo per jenis ikan. Nah, lapak ini kecil kan mikir juga pedagang kan,” ungkapnya
Kondisi tersebut juga terjadi lantaran ada satu jalan Nasional yang berada di Parit 1 Kuala Tungkal yang saat ini di sepanjang jalan nasional tersebut menjadi pasar.
Hal ini membuat sejumlah pedagang yang awalnya berjualan di Pasar Parit 1 Kuala Tungkal yang kemudian tidak ingin berjualan di Gedung Pasar Parit 1 akhirnya pindah berjualan di Jalan nasional parit 1.
“Mulai 2020 tadi lah banyak pedagang yang pindah ke sana. Sedikit-sedikit awalnya, lama-lama ya pindah semua, ini paling ada 10 pedagang lagi yang jualan, yang lain pindah. Tengok lah lapak banyak kosong,” sebut Maryani.
Hal senada juga disampaikan oleh Rudi, Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Tanjabbar membangun Gedung Baru Pasar Parit 1 Kuala Tungkal tersebut secara asal-asalan. Sebelum pembangunan pun, pihak pedagang dan pengelolah pasar tidak dilibatkan dalam rencana pembangunan.
“Seharusnya lihat lah seperti apa lapak yang lama, besar atau kecil. Nah yang sekarang ini kecil, kalo di lihat malah seperti warnet pasar itu. Karena lapaknya memang kecil sudah tu sempit. Pedagang dak nyaman pembeli dak nyaman,”sebutnya
Disisi lain, Rudi menilai Pemerintah tidak memiliki ketegasan terhadap perencanaan untuk mengaktifkan pasar parit 1 Kuala Tungkal. Hal ini terlihat dari pembiaran yang dilakukan oleh Pemkab terkait dengan adanya aktivitas jual beli di sepanjang jalan nasional parit 1 Kuala Tungkal.
“Yang dikatakan Pasar Parit 1 itu ya ini lah. Kalo disana itu dari mana pasar nya. Itu pinggir jalan, lihatlah di sana. Jadi pedagang yang disini pindah ke sana, sementara itu sebenarnya bukan pasar,”sebutnya
“Jadi tinggal pemerintah tertibkan tempat-tempat yang sebenarnya bukan pasar. Lalu kasih ketegasan untuk pindah ke pasar ini, tinggal ketegasan pemerintah lagi. Kalo kek gini diam-diam sudah lah, sia-sia gedung itu di bangun,”tegasnya.
Sementara itu, Rudi menjelaskan bahwa sejumlah pedagang enggan pindah lantaran lapak yang tidak sesuai dengan lapak lama. Pedagang merasa lapak yang dibuat tersebut sangat kecil, sehingga masyarakat lebih memilih untuk tidak menempatkan lapak.
“Biar pun gratis kalo bentuknya seperti itu percuma, sempit, kecil lagi. Jangankan pedagang, pembeli nian malas masuk. Kek mana kita nak berdagang,” Tandasnya. (Mam).
Discussion about this post