PILARJAMBI.COM | JAMBI – Meski berdiri disebuah sudut perkotaan, sebuah warung kopi ini gencar ciptakan budaya literasi. Kali ini, Kopi Klotok Jambi datangkan Akademisi dan Praktisi gelar diskusi seputar kehutanan dan agraria.
Berawal terinspirasi dari Warung Kopi ala Kota Pendidikan Yogyakarta, yang terkenal dengan obrolan-obrolan seputar dinamika sosial.
Tak ayal, Kopi Klotok yang bertempat di kawasan Kampus Mendalo Universitas Jambi, datangkan Akademisi dan Praktisi, Sabtu (11/09/2021).
Rozen Owner Kopi Klotok, pada sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut sengaja digelar guna membangun kebiasaan anak muda, agar dekat dengan issu terkini.
Apalagi, bilangnya, obrolan-obrolan para pendiri bangsa terdahulu berawal dari meja kopi. Maka, untuk menjawab tantangan zaman kedepan, dibutuhkan spirit anak muda untuk membangun bangsa dan negara.
“Bukan untuk branding atau orientasi lain. Tetapi, bagaimana kedepan anak muda mampu menjadi solusi, yang dimulai dari obrolan meja kopi,” tukas Rozen.
Tak tanggung-tanggung, diskusi tersebut mengundang Dadan Mulyana, merupakan akademisi Institut Pertanian Bogor. Tak hanya itu, juga mendatangkan Nor Qomariyah Praktisi Taman Nasional Bukit Tigapuluh Jambi.
Sengaja mengangkat tema ‘Persahabatan Perempuan dan Hutan’, tampak menuai antusias dari para pengunjung. Yang mana, diskusi tersebut dipandu oleh Aldi Dwitara, Ketua Komisariat GMNI Agraris Universitas Jambi.
Pemberdayaan Masyarakat
Disela-sela sesi diskusi, tampak Reinhadt P Antonio, Sekretaris GMNI Jambi, menanyakan langkah penyelesaian konflik agraria.
Yang mana, pertanyaan tersebut dilontarkan, mengingat baru-baru ini DPRD Provinsi Jambi telah membentuk Panitia Khusus Konflik Lahan.
Menjawab hal tersebut, pemateri menjelaskan, untuk menyelesaikan persoalan konflik lahan dibutuhkan langkah yang kompleks. Yakni, melalui pendekatan aturan yang dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat.
“Dibutuhkan sebuah resolusi konflik, bagaimana mewujudkan sebuah keseimbangan ekologi. Melalui, edukasi bagi masyarakat adat atau masyarakat sekitar konsesi. Misal, edukasi pertanian atau perkebunan yang terintegrasi.” jelas Nor Qomariyah. (*)
Discussion about this post