PILARJAMBI.COM | JAMBI – Hampir semua orang memiliki akun media sosial di berbagai platform masa kini. Dangan luasnya akses di kanal-kanal tersebut memberikan ruang kreatifitas mapun informasi bagi pengguna baik melalui video, gambar dan sebagainya.
Namun, dalam penggunaan akun media sosial tentunya sangat rentan atas perundungan siber ataupun fitnah. Untuk meminimalisir hal tersebut, tentunya kita harus bijak dalam berkomentar.
Kegiatan yang diinisiasi Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal (Dirjan) Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Kominfo RI dalam bentuk Webinar Literasi Digital di Kota Jambi ke Delapan dari 37 ini juga membahas komentar di sosial media, Senin (12/07/21).
Kegiatan yang bertajuk “Bijak Berkomentar di Ruang Digital” ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Diikuti 88 peserta, Webinar ini diisi oleh narasumber yang berkompeten di bidangnya, yaitu:
- Dionni Ditya Perdana, M.I.Kom (Akademisi dan Penggiat Literasi Digital)
- Rizki Hesananda, S.Kom. M.Kom (Lecture dan Programmer)
- DR. dr. H. Maulana, MKM (Wakil Walikota Jambi)
- Mochammad Farisi, SH., LL.M (Dosen FH UNJA dan Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan/PUSAKADEMIA).
Pegiat media social yang juga Presenter TvOne dan Konten Kreator Youtube ANDROMEDA MERCURY, @andromeda_mercury Bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya.

Pendapat Narasumber
Dionni Ditya Perdana, M.I.Kom: “Penggunaan internet di Indonesia umumnya berinteraksi lewat aplikasi chatting dan berinteraksi di media social, menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama”.
Rizki Hesananda, S.Kom. M.Kom: “Dunia digital kini telah menjadi dunia nyata kedua kita bahkan menjadi yang pertama, penggunaan internet harus secara bijak dan sesuai etika tanpa membahayakan diri sendiri atauun orang lain”.
DR. dr. H. Maulana, MKM: “Literasi Digital tujuannya untuk mendidik masyarakat agar mampu menggunakan media secara cerdas dan kritis. Seorang yang melek media kemudian menjadi seseorang yang mampu untuk membaca, memahami, mengevaluasi, menyeleksi dan mengkritik isi dari pesan-pesan media”.
Mochammad Farisi, SH.,LL.M: “Kebebasan berpendapat diakui, dijamin dan diberikan perlindungan hukum, Kebebasan berpendapat harus dengan niat yang baik, menghormati orang lain, tidak menghina, tidak mencemarkan nama baik, tidak menghasut dan tidak menebar kebencian ”.
@andromeda_mercury Sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini, menuturkan “bijaklah berkomentar seperti di instagram dll, misalnya kita yang kerja di tv banyak sekali komentar netizen ada yang positif ada yang negative, ada menghujat atau di bully. Di dunia digital like and dislike selalu berdampingan, karna tidak mungkin semua orang akan suka dengan kebijakan kita, kritiklah untuk membangun karna mengkritik menyerang secara personal itu yang bahaya bisa terjerat UU ITE”.
Untuk diketahui, Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital.
“Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.
Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital. (*)
Discussion about this post