PILARJAMBI.COM | JAMBI – Setelah tercatat sebagai provinsi yang memiliki angka inflasi tertinggi di Indonesia, kini pemerintah provinsi Jambi masih terus berupaya untuk menekan angka inflasi.
Gubernur Jambi, Al Haris mengklaim bahwa sejak mengetahui inflasi Jambi mencapai 8,55 persen pihaknya terus melakukan intervensi dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menekan inflasi, salah satunya meminta Bulog membuka pasar murah.
“Kita sudah berupaya dan hasilnya memang turun menjadi 7,7 persen itu artinya hanya turun 1,019 persen saja yang tidak berdampak banyak karena lambungannya mencapai 8,55 persen,”ungkap Haris kepada awak media, Selasa (06/09/2022).
Menurut Haris, perlu diketahui bahwa inflasi ini bisa mendadak meningkat tajam ketika ada kenaikan harga produk di masyarakat yang kemudian membuat pasokan menjadi berkurang.
“Sebagai contoh harga cabai hari ini yang masih tinggi karena minimnya stok persediaan. Di kota Jambi saja kita butuh 16 ton cabai perhari sementara pasokannya hanya ada 1 ton perhari. Belum lagi harus bersaing dengan pengusaha di luar Jambi seperti di Sumatera Selatan, Sumbagsel, dan Indragili Hilir,” ujar Haris.
Hal-hal seperti ini, kata Haris yang harus dikendalikan. “Salah satunya mendata distributor yang ada di Kota Jambi dan Kabupaten Bungo agar tidak lagi menjual pasokan ke luar Provinsi Jambi, karena jika kedua kota ini bisa dikendalikan maka inflasi pun bisa turun ,” ungkap Haris.
Tidak hanya itu, mengendalikan inflasi ini juga dapat dilakukan dengan meringankan ongkos angkut atau transportasi distributor. “Iya jadi nanti kita bayarkan ongkos angkutnya baik itu komoditi yang di ambil dari Jawa ataupun dalam provinsi Jambi,” ungkap Haris.
Ditanya soal anggaran pengendalian inflasi, Haris mengaku akan mengalokasikan dana sebesar Rp8,2 miliar. “Dananya kalau dari pusat itu 2 persen dari dana transfer umum kalau dirincikan sekitar Rp 8,2 miliar,” tutup Haris. (Peha)
Discussion about this post