*Penulis Adalah Pengasuh Majlis Ta’lim Rock n Roll Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat.
*MTrocknroll.com ( Media Fartner PILARJAMBI.COM )
RELIGI, – Melihat perkembangan penyebaran virus corona di negeri tercinta ini begitu luarbiasa. Informasi terupdate menyatakan sudah ada sebanyak 227 kasus terkait covid-19 tersebut dan dari jumlah tersebut ada sebanyak 19 orang yang telah meninggal dunia dan 11 orang di nyatakan sembuh. Fakta ini memberikan gambaran kepada kita bahwa selain penyebaran virus ini terjadi begitu cepat dan mudah, ternyata virus ini juga bisa di sembuhkan.
Adalah hal yang sangat wajar jika kemudian pemerintah mengeluarkan semacam instruksi atau himbauan dalam rangka mencegah penyebaran virus corona dengan berbagai cara. Salah satu yang masih kontroversi saat ini adalah agar jangan menyelenggarakan ibadah di rumah-rumah ibadah. Himbauan ini tentunya di maksudkankan bagi daerah-daerah yang di anggap memiliki potensi penyebaran virus yang tinggi.
Sebagai seorang muslim, fenomena-fenomena yang sedang terjadi ini menimbulkan pemikiran sekaligus pertanyaan di benak kita. Kenapa ada orang yang takut secara zhohir (takut akan virus) namun tidak takut secara bathin (takut kepada Allah). Kemudian ada juga (sangat sedikit) yang hanya takut kepada Allah (bathin) dan tidak takut akan virus (zhohir).
Di dalam Kitab Hikam karya Imam Tajuddin Bin ‘Athaillah As-Sakandary, pengamalan secara zhohir dan secara bathin itu berbeda porsi dan perlakuannya (tidak bisa di satukan). Contoh kecil, sering dikatakan bahwa rezeki, jodoh dan maut itu sudah ada yang mengatur. Nah ini yang di maksudkan sebagai pengamalan secara bathin. Soal rezeki misalnya, apakah kita hanya akan diam di rumah menunggu beras turun dari langit? kan tidak. Secara zhohir kita di suruh juga untuk mencarinya dengan bercocok tanam atau membeli di pasar. Perkara dapat makan apa tidak dalam satu hari itu sudah ada aturannya (bathin yang berkerja), yakin Allah akan kasih rezeki kepada kita.
Begitu juga masalah kematian, kita tidak tahu berapa lama kita akan hidup di dunia ini tetapi kita mesti hidup sampai ajal kita datang. Rasulullah Muhammad SAW sendiri pernah, bahasa kasarnya di santet. Lalu tentu timbul pertanyaan kita kenapa rasulullah bisa di santet oleh raja santet yahudi kala itu padahal jelas-jelas beliau itu seorang rasul?. Perlu kita pahami bahwasanya rasulullah itu juga seorang manusia sama seperti kita yang secara zhohir juga apapun bisa terjadi sebagaimana kita. Rasulullah tetap berusaha untuk sembuh (melakukan secara zhohir) mencari apa penyebabnya dan berusaha menghindar dari pada perkara yg membinasakan diri dan secara bathin (kerasulan) rasulullah tidak turun imannya dan hanya takut kepada Allah.
Adalah wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga diri termasuk dalam menghadapi virus corona yang sedang mewabah saat ini. Kalau itu mesti dilakukan untuk menghindari penyakit ya kita berusaha sekuatnya untuk menghindar, ini yang di maksud takut secara zhohir. Kemudian takut hanya kepada Allah itu adalah urusan bathin (At-taqwa haa hunaa) karena takut itu di hati.
Jadi marilah kita menyesuaikan pengamalan kita dengan menauladani apa yang telah di amalkan oleh rasulullah. Beramal secara porsinya masing-masing, jangan di gabungkan dan jangan juga di balikkan.
Wassalam.
Discussion about this post