PILARJAMBI.COM | TANJAB BARAT – Prestasi akademik yang membanggakan mengantarkan Recha Oktaviani Safitri, mahasiswi asal Kabupaten Tanjung Jabung Barat, mendapat kepercayaan untuk menyampaikan sambutan mewakili para lulusan pada Wisuda ke-V Universitas Baiturrahim (Unba) Jambi, Sabtu (24/10/2026).
Recha menuntaskan pendidikannya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92. Capaian tersebut melengkapi rekam jejak prestasinya dalam berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Namanya tercatat sebagai pemenang Lomba Paper dengan nilai terbaik pada 2023. Pada tahun yang sama, ia juga meraih penghargaan Duta Genre Terfavorit Provinsi Jambi.
Prestasinya berlanjut pada 2024 dengan meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia (ILMAGI). Ia juga dipercaya mewakili Universitas Baiturrahim dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Wilayah X di Bukittinggi serta menerima Beasiswa Pemerintah Provinsi Jambi.
Namun, di balik deretan pencapaian tersebut, Recha membawa pesan yang lebih luas tentang arti perjuangan, dukungan keluarga, dan tanggung jawab setelah menyandang gelar sarjana.
Di hadapan pimpinan universitas, dosen, orang tua, keluarga, serta para wisudawan dan wisudawati, Recha mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan pendidikan. Sebaliknya, momen tersebut menjadi titik awal untuk menghadapi kehidupan dengan tantangan dan kesempatan yang baru.
Ia mengajak seluruh lulusan mengenang kembali perjalanan selama menempuh pendidikan, termasuk berbagai kesulitan yang mungkin tidak terlihat di balik kebahagiaan mengenakan toga.
Menurut Recha, perjalanan kuliah tidak selalu berjalan mulus. Kelelahan, kegagalan, hingga keinginan untuk menyerah menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi. Dukungan dosen, sahabat, dan keluarga, terutama orang tua, menjadi kekuatan untuk terus bertahan dan menyelesaikan pendidikan.
“Hari ini menjadi bukti bahwa tidak ada langkah yang sia-sia selama kita tidak berhenti melangkah,” tuturnya.
Pesan tentang orang tua yang menyentuh
Salah satu bagian yang paling berkesan dalam sambutan Recha adalah ketika ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya.
Ia bercerita bahwa keluarganya tidak pernah menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Orang tuanya justru menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, serta keteguhan untuk menghadapi berbagai keadaan.
“Mereka tidak selalu menuntut saya untuk menjadi yang paling unggul, karena yang lebih mereka khawatirkan bukan ketika saya gagal menjadi juara, melainkan ketika saya tidak baik-baik saja dalam menjalani perjalanan ini,” ungkapnya.
Bagi Recha, kasih sayang orang tua juga tercermin dari keberanian mereka memberikan kepercayaan kepada anak untuk menentukan arah kehidupannya sendiri.
Ia mengakui bahwa fase ketika orang tua mulai melepaskan kendali dan memberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup justru menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan.
“Beban terberat justru ketika kedua tangan orang tua saya sudah tidak lagi menuntun saya, tetapi merenggang untuk melepaskan saya. Mereka tidak menekan sama sekali, mereka hanya mempercayakan seluruh hidup saya kepada saya,” ucapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan orang tua bukan hanya tentang mendampingi anak hingga berhasil meraih prestasi, melainkan juga memberikan kepercayaan agar anak mampu berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Mengajak lulusan membawa manfaat bagi masyarakat
Dalam kesempatan itu, Recha juga mengingatkan rekan-rekan sesama lulusan agar tidak memandang keberhasilan semata-mata dari pencapaian pribadi.
Ia memahami bahwa setelah wisuda, setiap orang akan menghadapi pilihan dan perjalanan yang berbeda. Ada yang mulai memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, merintis usaha, maupun berusaha menemukan kesempatan yang sesuai dengan kemampuannya.
Apa pun jalan yang dipilih, ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Universitas Baiturrahim diharapkan tetap menjadi pedoman.
“Keberhasilan bukan hanya tentang mencapai impian pribadi. Keberhasilan adalah ketika kehadiran kita mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain,” tegasnya.
Recha menilai ilmu pengetahuan akan semakin bermakna ketika diterapkan dan dibagikan kepada sesama. Begitu pula kesuksesan, yang menurutnya memiliki nilai lebih ketika dapat digunakan untuk membantu dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Hidup akan menemukan tujuannya ketika kita menjadi alasan hadirnya harapan bagi sesama,” lanjutnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi para lulusan untuk menjadikan pendidikan sebagai bekal berkontribusi di tengah masyarakat, bukan sekadar sarana meraih keberhasilan individual.
Wisuda dihadiri pimpinan universitas dan keluarga lulusan
Wisuda ke-V Universitas Baiturrahim Jambi tersebut dihadiri Rektor Universitas Baiturrahim Jambi Dr. Fillius Chandra, S.E., M.M., Ketua Senat Dr. Arifahrahmi, M.Keb., Kepala LLDIKTI Wilayah X, Wakil Rektor I Ns. Hasyim Kadri, M.Kes., serta Wakil Rektor II Bidan Gustina, M.Keb.
Turut hadir Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Bidan Julaecha, M.Keb., Dekan Fakultas Humaniora Dr. Rahimah, S.ST., M.Kes., AIFO, para ketua program studi, dosen, pejabat struktural universitas, orang tua dan keluarga, serta seluruh wisudawan dan wisudawati.
Menutup sambutannya, Recha mengajak para lulusan menyongsong masa depan dengan optimisme, sembari tetap menjaga nama baik almamater melalui sikap dan kontribusi nyata.
Ia berharap para lulusan Universitas Baiturrahim tidak hanya dikenal karena kecerdasan dan prestasi akademik, tetapi juga karena integritas, empati, serta kemampuan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Wisuda pun menjadi penanda berakhirnya satu tahap perjuangan sekaligus dimulainya perjalanan baru. Bagi Recha dan para lulusan lainnya, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama kuliah dapat memberikan arti bagi kehidupan.





































































































Discussion about this post