PILARJAMBI.COM – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan komitmennya dalam mendorong terciptanya dunia kerja yang inklusif melalui pendampingan perusahaan dalam penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas.
Sekretaris Jenderal Cris Kuntadi menyampaikan, pendampingan yang dilakukan Kemnaker tidak hanya berfokus pada proses rekrutmen tenaga kerja disabilitas, tetapi juga mencakup penyesuaian lingkungan kerja hingga penyediaan alat bantu kerja sesuai kebutuhan masing-masing ragam disabilitas.
“Kami ingin memastikan perusahaan tidak berjalan sendirian. Kemnaker hadir untuk mendampingi, mulai dari pemetaan jabatan yang cocok hingga memastikan fasilitas pendukung tersedia, sehingga tenaga kerja penyandang disabilitas dapat bekerja secara produktif dan nyaman,” ujar Cris Kuntadi saat meninjau perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas di Malang dan Blitar, Kamis–Jumat (7–8 Mei 2026).
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Firmanuddin.
Dalam agenda tersebut, Kemnaker memberikan apresiasi kepada sejumlah pelaku usaha yang dinilai berhasil membangun lingkungan kerja inklusif bagi penyandang disabilitas. Empat entitas usaha yang mendapat apresiasi yakni PT Burger Buto, PT Gandum, Rumah Batik Kinarsih, serta Warung Bambu Barokah.
Menurut Cris, langkah yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut telah melampaui ketentuan kuota minimal 1 persen tenaga kerja disabilitas sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
“Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa inklusivitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud nyata keberpihakan terhadap kemanusiaan dan pengakuan atas potensi kerja penyandang disabilitas,” tegasnya.
Kemnaker juga mengapresiasi keberanian perusahaan dalam membuka ruang kerja bagi ragam disabilitas yang masih sering menghadapi stigma sosial, seperti penyandang disabilitas mental di Rumah Batik Kinarsih serta penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita di PT Burger Buto dan Warung Bambu Barokah.
“Stigma sering kali menjadi hambatan terbesar. Namun perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa dengan dukungan dan manajemen yang tepat, penyandang disabilitas mental maupun intelektual mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan usaha,” tambah Cris.
Kemnaker berharap praktik baik yang lahir dari Malang dan Blitar dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan di berbagai daerah untuk membuka peluang kerja yang lebih setara, ramah, dan inklusif bagi penyandang disabilitas.
“Kami ingin semakin banyak perusahaan menyadari bahwa dunia kerja yang inklusif bukan hanya memungkinkan, tetapi juga mampu memperkuat produktivitas, solidaritas, dan nilai kemanusiaan di lingkungan kerja,” pungkasnya. **









































































































Discussion about this post